Pesan Beppo pada Momo
Berikut saya sebutkan kata-kata Beppo kepada Momo yang saya kutip dari novel “MOMO”, buah karya Michael Ende. Pesannya sangat sederhana, karena Momo sendiri adalah anak kecil 10-12 tahun yang tiba-tiba tinggal di reruntuhan amfiteater. Beppo adalah tukang sapu jalanan kota itu, usianya kira-kira sudah lebih dari setengah baya.
Beppo Tukangsapujalanan kepada Momo,
Momo:42-43
“Begini, Momo. Kadang-kadang jalanan membentang panjang di depan kita. Dan kita pikir jalannya panjang sekali, takkan ada yang sanggup, begitu kita pikir. Dan habis itu kita mulai terburu-buru. Dan setiap kali menoleh, kita melihat bahwa jalanan yang belum dikerjakan tetap saja panjang. Dan kita semakin kalang-kabut, kita mulai ketakutan, akhirnya kita kehabisan napas dan tidak sanggup meneruskan pekerjaan. Dan jalanan tetap saja membentang. Itu cara yang keliru. Kita jangan pikirkan seluruh jalanan sekaligus, kau mengerti? Pikirkan langkah berikut saja, tarikan napas berikut, ayunan sapu berikut. Lalu yang berikutnya lagi. Dengan cara itu, pekerjaan kita akan menyenangkan. Itu penting, sebab kita jadi bekerja dengan baik. Dan begitulah seharusnya”.
Beppo Tukangsapujalanan kepada Momo,
Momo:42-43
Ketika saya berdiri di hadapan warga belajar di kelas, dan merasa dikejar-kejar dua hal yang pasti ada (tenggat waktu dan materi yang harus disampaikan kepada warga belajar), saya selalu mengingat kata-kata Beppo.
Demikian juga ketika saya mendengar dari para pamong bahwa ujian nasional Pendidikan Non Formal dilaksanakan Bulan Maret, sementara tanggal merah bertebaran di mana-mana, saya hanya dapat berdoa, “Semoga mereka mendapat kemudahan…”
Tak ada yang lebih berharga bagi seorang pengantar manusia kepada ilmu, selain melihat yang diantar dapat meraih apa yang dibutuhkan dan menjadi manusia yang bermanfaat…
Saya titip salam untuk semua pendidik…
Posted by
at
08:47:09