Sunday, January 20, 2008

MY CONFESSION…

Saya pernah bermain taruhan pacaran dengan teman-teman sewaktu kelas 1 SMA. Saya mendapatkan kekasih posesif yang tidak benar-benar saya cintai. Saya merasakan sakit di perasaan ketika saya harus mengakhiri semuanya, tanggal 12 Maret 2001,kala dia benar-benar mencintai saya. Tapi dia posesif, meski terlalu baik namun tak begitu tampan. Maaf, saya tak bisa… Hidup yang singkat ini terlalu berharga untuk saya habiskan bersama lelaki yang tangannya riang dan menutup jalan nafas saya.

Saya pernah merasa menyesal yang sangat ketika ada lelaki dekat dengan saya, mengikrarkan cintanya pada 14 Maret 2001, namun saya menganggapnya canda. Sekarang semuanya terlalu cepat berlalu. Untunglah Tuhan menunjukkan keburukannya pada saya, menjadi pertanda bahwa saya tak patut menyesalinya. Maaf, saya jadi tak cinta…

Saya pernah merasakan sedih yang teramat dalam saat saya mulai berani menunjukkan perasaan saya pada seorang lelaki pandai gacoan di kelas 3 SMA, namun dia harus menghadap kembali pada Penciptanya. Dan maaf, hanya doa yang mengiringi kepergiannya…

Saya pernah merasakan ikhlas ketika seorang lelaki yang kukira satu-satunya diperuntukkan takdir buat saya ternyata sudah memperoleh pendamping yang sebanding derajatnya. Mengapa tak terus terang saja? Maaf, saya mengikhlaskanmu dengan tanpa peduli lagi apakah dirimu bahagia atau sengsara bersamanya… Saya percayakan segalanya padamu, termasuk pendampingmu.

Saya pernah menyembunyikan tangis dalam hati hingga butiran air itu menjadi serpih-serpih kristal tajam yang mengoyak hati saya, ketika keberadaan saya tak dapat membuat bangga keluarga lelaki yang mengajak saya ke dalamnya. Maaf, Ibu saya tak punya koleksi berlian dan Bapak saya tak memiliki tambak, rumah mewah, dan sawah…

Saya pernah menyayangi dengan sangat, namun rasanya seperti menggarami samudera, dan lelaki itu meninggalkan saya tanpa ucapan terima kasih dan permohonan maaf. Yang ini lebih posesif. Maaf, saya tak mampu meneruskan, tapi tak kuasa mengakhiri… Untunglah lelaki itu mengakhiri semuanya. Maaf, saya rela ditinggalkan tanpa menangis, karena saya memang tak menyimpan air mata yang terlanjur menguap sebelum bergulir…

Saya pernah rela tidak menerima cinta laki-laki yang dua kali menyatakan menyatakan cintanya pada saya. Maaf, saya tak ingin mengecewakanmu…

Saya pernah sedih dan sayang ketika lelaki yang sempat singgah untuk bermain-main selama 168 jam di hati berpamitan secara baik-baik tepat pada saat saya mulai benar-benar menyayanginya. Saya tak menangis, karena saya juga bahagia saat dia lebih bahagia jika saya temannya. Dia tetap dekat dengan saya, namun saya tak berani berharap. Mungkin ada yang lebih membahagiakannya dan membuatnya sejahtera selamanya. Dia senantiasa mengajak saya berpikir. saya bersyukur pernah berjalan mengarungi hari bersamanya, meski hanya sebentar. Saya nyaman, meski tanpa peluk cium. Karena bagi saya, peluk cium sebelum pernikahan bukan indikator kedalaman cinta yang mutlak. Maaf, saya masih menyimpan kembang api, yang jika disulut suatu saat masih mampu memercikkan sinar-sinar kebahagiaan kecil yang bersatu memendarkan keelokan… Bahkan saya juga merasakan sakit ketika ternyata jalan cinta yang dilaluinya tak jauh beda dengan yang saya lalui. Lupakan saja pengakuan saya ini jika yang bersangkutan mengetahui dan keberatan akan pengakuan saya. Sekali lagi, saya mohon maaf…Semoga lelaki ini selalu mendapatkan kemudahan yang terbaik bagiNya…

Hidup ini terlalu berharga untuk diikuti penyesalan.

Saya mohon maaf kepada semua lelaki yang pernah saya hianati atau menghianati saya.

Sekarang saya bebas, terbang.

Suatu saat, saya membutuhkan tambatan yang teduh untuk hinggap, yaitu dia yang menaungi saya, dan saya percaya untuk menyimpan segala yang saya miliki. Yaitu dahan kokoh yang tetap saya izinkan tumbuh ke langit, dan tidak mengikat saya agar tak terbang. Mempercayai saya, dan tidak menyalahgunakan kepercayaan dari saya. Saya pahami, dan memahami saya. Tak sungkan menunjukkan kepribadian yang sesuangguhnya, dan tahu seperti apa saya sebenarnya. Saling membutuhkan, sekaligus saling mengokohkan ketika salah satu harus pergi. Karena suatu saat kita pasti kembali kepada Sang Pemilik dan Pemelihara.

Kepakkanlah sayap, kita terbang.

Mengarungi kehidupan yang sarat makna dan rasa.

Hari ini, ketika saya sangat takut untuk
JATUH KASIH lagi…
Lebih menakutkan, jika terjadi karena kondisi!
Posted by iksa at 08:27:38
Comments

Leave a Reply