
I need Chanoyu.

Demikian juga ketika saya mendengar dari para pamong bahwa ujian nasional Pendidikan Non Formal dilaksanakan Bulan Maret, sementara tanggal merah bertebaran di mana-mana, saya hanya dapat berdoa, “Semoga mereka mendapat kemudahan…”
Tak ada yang lebih berharga bagi seorang pengantar manusia kepada ilmu, selain melihat yang diantar dapat meraih apa yang dibutuhkan dan menjadi manusia yang bermanfaat…
Saya titip salam untuk semua pendidik…
Saya pernah merasa menyesal yang sangat ketika ada lelaki dekat dengan saya, mengikrarkan cintanya pada 14 Maret 2001, namun saya menganggapnya canda. Sekarang semuanya terlalu cepat berlalu. Untunglah Tuhan menunjukkan keburukannya pada saya, menjadi pertanda bahwa saya tak patut menyesalinya. Maaf, saya jadi tak cinta…
Saya pernah merasakan sedih yang teramat dalam saat saya mulai berani menunjukkan perasaan saya pada seorang lelaki pandai gacoan di kelas 3 SMA, namun dia harus menghadap kembali pada Penciptanya. Dan maaf, hanya doa yang mengiringi kepergiannya…
Saya pernah merasakan ikhlas ketika seorang lelaki yang kukira satu-satunya diperuntukkan takdir buat saya ternyata sudah memperoleh pendamping yang sebanding derajatnya. Mengapa tak terus terang saja? Maaf, saya mengikhlaskanmu dengan tanpa peduli lagi apakah dirimu bahagia atau sengsara bersamanya… Saya percayakan segalanya padamu, termasuk pendampingmu.
Saya pernah menyembunyikan tangis dalam hati hingga butiran air itu menjadi serpih-serpih kristal tajam yang mengoyak hati saya, ketika keberadaan saya tak dapat membuat bangga keluarga lelaki yang mengajak saya ke dalamnya. Maaf, Ibu saya tak punya koleksi berlian dan Bapak saya tak memiliki tambak, rumah mewah, dan sawah…
Saya pernah menyayangi dengan sangat, namun rasanya seperti menggarami samudera, dan lelaki itu meninggalkan saya tanpa ucapan terima kasih dan permohonan maaf. Yang ini lebih posesif. Maaf, saya tak mampu meneruskan, tapi tak kuasa mengakhiri… Untunglah lelaki itu mengakhiri semuanya. Maaf, saya rela ditinggalkan tanpa menangis, karena saya memang tak menyimpan air mata yang terlanjur menguap sebelum bergulir…
Saya pernah rela tidak menerima cinta laki-laki yang dua kali menyatakan menyatakan cintanya pada saya. Maaf, saya tak ingin mengecewakanmu…
Saya pernah sedih dan sayang ketika lelaki yang sempat singgah untuk bermain-main selama 168 jam di hati berpamitan secara baik-baik tepat pada saat saya mulai benar-benar menyayanginya. Saya tak menangis, karena saya juga bahagia saat dia lebih bahagia jika saya temannya. Dia tetap dekat dengan saya, namun saya tak berani berharap. Mungkin ada yang lebih membahagiakannya dan membuatnya sejahtera selamanya. Dia senantiasa mengajak saya berpikir. saya bersyukur pernah berjalan mengarungi hari bersamanya, meski hanya sebentar. Saya nyaman, meski tanpa peluk cium. Karena bagi saya, peluk cium sebelum pernikahan bukan indikator kedalaman cinta yang mutlak. Maaf, saya masih menyimpan kembang api, yang jika disulut suatu saat masih mampu memercikkan sinar-sinar kebahagiaan kecil yang bersatu memendarkan keelokan… Bahkan saya juga merasakan sakit ketika ternyata jalan cinta yang dilaluinya tak jauh beda dengan yang saya lalui. Lupakan saja pengakuan saya ini jika yang bersangkutan mengetahui dan keberatan akan pengakuan saya. Sekali lagi, saya mohon maaf…Semoga lelaki ini selalu mendapatkan kemudahan yang terbaik bagiNya…
Hidup ini terlalu berharga untuk diikuti penyesalan.
Saya mohon maaf kepada semua lelaki yang pernah saya hianati atau menghianati saya.
Sekarang saya bebas, terbang.
Suatu saat, saya membutuhkan tambatan yang teduh untuk hinggap, yaitu dia yang menaungi saya, dan saya percaya untuk menyimpan segala yang saya miliki. Yaitu dahan kokoh yang tetap saya izinkan tumbuh ke langit, dan tidak mengikat saya agar tak terbang. Mempercayai saya, dan tidak menyalahgunakan kepercayaan dari saya. Saya pahami, dan memahami saya. Tak sungkan menunjukkan kepribadian yang sesuangguhnya, dan tahu seperti apa saya sebenarnya. Saling membutuhkan, sekaligus saling mengokohkan ketika salah satu harus pergi. Karena suatu saat kita pasti kembali kepada Sang Pemilik dan Pemelihara.
Kepakkanlah sayap, kita terbang.
Mengarungi kehidupan yang sarat makna dan rasa.
Kenapa saya menggunakan nama kala satu sebagai blog saya?
Karena bagi saya, kala satu, atau saat sendirian, adalah saat terjujur yang kita miliki. Bahkan lebih jujur dari ketika kita bersama keluarga yang kita sayangi, lebih jujur dari waktu kita bersama belajan jiwa kita, dan lebih jujurdari saat kita mencurahkan hati kepada teman karib kita. Saat sendirian adalah saat kita benar-benar memiliki waktu yang merupakan kebebasan mengenai apa yang sedang kita pikir atau rahasiakan.
Dan bagi saya, kertas dan pena adalah teman yang tersetia. Kertas dan pena tak pernah mengeluh, seberapa pun perasaan yang kita luapkan (lha iya! Malah kita yang ngeluh sendiri karena pegel nulis, hahaha!!! Ih, kata dalam tanda kurung ini ngerusak kesan dramatisnya ya?Maap…).Kertas dan pena tak akan mencela kita, atau menertawakan kita.
Sudah lama saya tak suka persahabatan. Shit! Bagi saya yang ada adalah keluarga, saudara, teman karib, dan belahan jiwa. Sahabat adalah penghianat yang paling dekat. Itu menurut saya, karena kenyataannya demikian… Selain hubungan orangtua-anak atau saudara sekandung, bagi saya orang-orang yang mengaku ingin menjadi sahabat saya adalah orang-orang yang perlu dipertanyakan hatinya.
Bukankah teman bisa menjadi saudara karena saling berbagi dan terbukanya hati?
Bukankan teman mampu menjadi belahan jiwa ketika Tuhan telah menuntun hatinya bersatu dengan hati kita?
Bukankah teman dapat menjadi kawan karib saat kita saling mengerti dan selalu dekat?
Dan semuanya terjadi atas bantuan guliran waktu yang tak lelah memberikan cintanya pada kita. Ya, waktu sangat mencintai kita…
Tanpanya, kita tak punya kenangan tentang masa lalu, tak bisa menjalani kehidupan sekarang, dan mengangankan esok yang akan datang.
Lalu, jangan sia-siakan dia, Sang Waktu, yang telah memberi kita cinta. Jangan khianati dia, Sang Waktu, yang dengan ikhlas telah memberi saat terjujur bagi kita, Kala Satu…