Kencan Terbaru ala SactroZiLLa
Penerapan Pelajaran Moral pada KENCAN TERBARU!!!
…
“Ni lg d dpn laptop, blm mkn, u?”
…
Dari pesan pendek itu kami makan malam bersama di luar. Dia datang ke kos dengan kaos hitam yang tertutup jaket hitam, celana jeans gombrong, mata yang agak lelah, dan rambut yang sedikit basah.
“Yuk, makan dimana?” tanyanya.
“Terserah seleramu…”
Saya tak tahu seleranya, karena kami belum banyak kenal. Beberapa bulan lalu saat malam minggu dia datang ke kos dan pulang pada pukul setengah sepuluh malam. Dia banyak bercerita tentang karir, hobi, dan keluarganya.
“Oke.”
Aaah… untunglah, lelaki ini bisa mengambil keputusan tanpa harus saling melempar pertanyaan.
“Mampir Ezy, nggak?”
“Gampang,” katanya enteng sambil meraih helm.
Menyusuri gang keluar menuju jalan raya, hujan turun lumayan deras. Sialan, batin saya. Saya berdoa semoga malam cerah, dan kami tak perlu berlama-lama menunggu hujan.
Pelajaran moral pertama: Dengan kekasih pertama, kedua, dan ketiga saya dulu, dalam kondisi hujan apapun bisa saja terjadi! Misalnya:
a. Dalam kondisi dingin, lelaki melingkarkan jaket ke wanita, kira-kira berapa percepatan degup jantung atau aliran darah si wanita? Mungkin jatuh cinta, mungkin tidak.
b. Dalam kondisi dingin, ketika kendaraan harus menepi dan berteduh di beranda toko yang tutup dan sepi, secara tak sengaja tangan hangat lelaki menyenggol pergelangan tangan wanita, kira-kira berapa kuat sengatan di hati wanita? Mungkin jatuh cinta, mungkin tidak.
c. Dalam kondisi dingin, saya sering alergi. Bersin. Lelaki menatap saya. Seperti di film-film, bisa datang perhatian, bisa tidak.
d. Dalam kondisi dingin, berteduh, tak mungkin saling diam. Berbicara adalah salah satu cara menghangatkan badan. Tak percaya? Cobalah pergi dengan target Anda saat hujan turun dan tak membawa jas hujan, lalu ajak dia menepi. Terutama pada waktu antara sore samapi malam hari. Pembicaraan ringan, hingga membuka diri masing-masing. Dari sana timbul empati. Bisa jatuh cinta, bisa tidak.
Karenanya, saya berharap hujan segera reda. Bukan takut jatuh cinta, saya tak mau hanyut. Saya selalu mengartikan hingga momen-momen terkecil. Saya masih takut sakit lagi.
Hujan masih turun, tak terlalu lebat tapi mampu membasahi kami. Refleks, saya menyentuh lengan jaketnya.
“Waaah, Mas, basah nih, jadi nggak enak…”
“Alaaah… nggak pa-pa, hujan kecil ini…”
Dia tetap mengemudikan motornya.
“Kalau bawa jas hujan dipake aja nggak pa-pa lo, Mas.”
“Hahaha… lha itu, kebetulan nggak bawa. Udah, basah dikit aja kok.”
Sampai di jalan besar, dia menoleh ke belakang, lalu ke depan lagi. Menoleh ke arah saya, lalu ke depan lagi.
“Kenapa, Mas?”
“Oooh… nggak… saya kira nggak pake helm.”
“Hehe…”
Lalu dia menepikan sepeda motor yang kami tumpangi di sebuah warung tenda lesehan. Dia memesan bebek goreng dan jeruk hangat. Saya memilih tempe dan teh panas.
“Kok tempe saja? Nggak ayam, lele, atau bebek? Seafood juga ada, tuh…”
“Nggak, saya nggak suka daging.”
“Vegetarian?” tanyanya.
“Bukan juga, Cuma saya ingat kalo hidup, kasihan… Nggak pa-pa kok, tempe aja… Memang aneh ya? Ayam, bebek, dan sebangsa unggas saya nggak suka.”
“Terus proteinnya dari mana, dong?”
Wah, dasar orang kesehatan! Tapi dalam hati saya bahagia juga diperhatikan demikian, walau sedikiiit…
“Tempe, susu, telur…”
“Iya, sih…”
Pesanan datang, dan lalapannya dijadikan dalam satu piring. Mangkuk cuci tangan juga disodorkan. Nasi dalam satu piring, dan lauk di piring yang lain. Saya sendiri makan menggunakan sendok, karena saya tak bisa memungut nasi dengan tangan.
“Mas, mau sambel lagi? Mumpung masih belum saya sentuh nih, saya nggak suka sambel.”
“Ya, gampang, nanti.”
Jawaban yang demikian tidak membutuhkan penawaran kedua, karena nanti pasti sudah terkena sendok makan saya. Yah, biarkan saja dia makan sesuai seleranya.
Pelajaran moral kedua: Pada lelaki-lelaki sebelumnya, saya selalu menawarkan dan menyediakan apa yang mereka sukai terus menerus. Sudah merupakan alasan umum jika wanita ingin membahagiakan kekasihnya. Misalnya pacar ketiga saya suka teh Gopek yang diseduh dengan air mendidih, dibiarkan sampai merah dan agak hangat, lalu disajikan setelah disaring. Setiap kedatangannya saya selalu menyediakan itu, karena saya mencintainya dan saya pikir dia pasti bahagia karenanya. Ternyata saya salah. Suatu saat dia merasakan nikmatnya jahe hangat yang dibuatkan Azizah, teman sekantornya, pada saat lelaki itu batuk parah. Jelas lebih hangat. Ketika dia berkata, “Ik, kemarin aku minum jahe Azizah, enak, hangat… Gimana kalau kamu buatkan itu untukku?”
Saat itu saya nyolot dan marah, “Oooh… jadi punya Azizah lebih enak? Kenapa nggak minta dibuatkan Azizah aja?” “Kok marah?” tanyanya. Sekarang saya baru menyadari dalam sebuah pelajaran moral, ternyata kebosanan itu timbul suatu saat. Saya memang salah. Di lain waktu, dia suka roti bakar coklat, dan ingin yang stroberi. Oh, okelah, saya menyadari seiring dengan berjalannya waktu.
Sekarang saya tahu, penawaran pertama sudah cukup, dan jika nanti dia menghendaki tambah atau minta sambal lagi saya siap. Ternyata selalu memberi atau menawarkan sesuatu tidak selamanya tepat dengan apa yang dibutuhkan dan diinginkan lelaki, dan memaksanya adalah tindakan yang buruk. Pertama, lelaki bosan dan terganggu. Kedua, jika kondisi emosi sedang buruk, kita juga yang sakit hati dan merasa tak berguna. Bisa menangis, bisa nggak.
Makan malam, ngobrol, dan saya lebih banyak mendengarkan. Sumpah! Baru kali ini saya mendengarkan dengan nyaman. Pada lelaki-lelaki sebelumnya, kebanyakan saya lebih menguasai pembicaraan. Di antara teman-teman, saya juga yang paling cerewet plus destroyer. Bahkan pacar ketiga saya meninggalkan saya karena kemampuan mendengarkan saya termasuk buruk: tak mau kalah, dan suka membicarakan diri sendiri.
Sekarang?
Lelaki ini yang terkenal pendiam di seluruh kalangan, tak henti-hentinya berbicara. Memang dia sedang mengalami pukulan yang sangat berat, dan bagi saya dia yang berhak menghabiskan kata malam itu.
Demi Tuhan, saya speechless!!!
Saya mengabdikan waktu saya untuk benar-benar mendengarkannya, karena saya memang memiliki niat itu. Saya merasa membutuhkan diri saya sebagai pendengar. Saya lebih nyaman menjadi pendengar.
Pelajaran moral ketiga: Pada saat-saat tertentu lelaki suka diam, tetapi mereka juga dapat merasakan nyamannya didengarkan saat mereka memang butuh bercerita. Pada lelaki-lelaki sebelumnya, saya selalu menanggapi, menyanggah, atau bertanya setiap mereka selesai berbicara. Namun saya belajar dari Sosaku Kobayashi dan Momo, mendengarkan yang benar adalah dengan hati, melalui telinga, dan ketulusannya terpancar lewat pandangan mata.
Berlebihankah? Saya kira tidak… Mendengar jenis ini adalah benar-benar mendengarkan, merasakan, tanpa harus bertanya sekedar menunjukkan perhatian, tanpa menanggapi dan memberi solusi yang mungkin dapat mempengaruhi pendiriannya, atau bahkan menyanggah karena tak sesuai dengan intepretasi kita yang dapat menyulut emosinya.
Cukup mendengar.
Pada satu saat lelaki memang mendeskripsikan. Mereka tak suka kita memotong kalimatnya pada saat itu.
Dan saya turut bersimpati atas kebelumberuntungan yang menimpanya. Saya berharap dia nyaman tanpa saya memotong tuturannya. Kami memang tetap sambil makan, dan kegagalan-kegagalan saya yang lalu telah memberi pelajaran bagaimana sikap makan sambil mendengarkan yang tidak mengganggu kenyamanannya. Melihat gaya makannya, dia sedang benar-benar emosi berkaitan dengan karirnya. Masa depan yang telah dijanjikan padanya, ternyata jatuh pada orang lain, sahabatnya sendiri.
Bebek gorengnya masih banyak sisa, dan dia minta tambah sepiring nasi.
Saya melihat kekecewaannya.
Dia duduk lagi. Mulai mempertemukan daging bebek dengan nasi, lalu menyuapkan ke mulutnya. Saya sendiri sudah hampir habis.
“Saya bohong kalau saya tidak kecewa.”
Dia membolak-balik lalapan dan membanting-banting kubis di piring yang berada di antara piring saya dan piringnya.
“Ya, saya melihatnya dari mata Mas. Memang berat yang demikian, tapi pasti Tuhan sedang merencanakan yang lebih baik buat Mas.”
Klise, ya? Tapi pasti terjadi.
Dia lalu bertanya tentang pekerjaan saya, saya jawab apa adanya. Masih sambil menghabiskan makanan kami.
“Eh, di sini sebentar lagi ya…”
“Hah? Eh… ya…,” jawab saya sedikit gugup.
Gerimis memang masih turun, dan saya tak berani menebak mengapa dia mengajak saya tinggal sejenak untuk mengobrol.
Dan kami mengobrol. Mengalir saja, dan ternyata itu lebih menyenangkan.
Jelas sekali dia orang baru dalam dunia saya, dan saya baru mengenal dunianya.
Pelajaran moral keempat: Jangan memaksakan diri menyesuaikan pembicaraan, jangan sok tahu, dan jangan malu bertanya sesuatu yang memang belum kita tahu. Pada seorang lelaki yang pernah dekat dengan saya, saya selalu memaksakan diri mengimbangi jalan pikirnya. Dia anaknya dosen IPB, sekarang PNS di sebuah badan berskala nasional, dan kepalanya semacam samudra ilmu pengetahuan. Demi menjadi teman bicara yang nyaman, saya memaksakan diri menerjemahkan kata-katanya. Padahal dia tak meminta saya demikian rumit, dia hanya menceritakan pengalamannya dan memotivasi saya. Sisi positifnya, saya banyak belajar. Sisi negatifnya, saya jadi tak menikmati pembicaraan karena sibuk berpikir sesuatu yang sebenarnya sederhana. Lelucon-lelucon yang saya lontarkan jadi terasa ‘maksa’ dan nggak asik sama sekali. Maka, obrolan yang harusnya santai jadi membuat kerongkongan tegang karena mengunyah setiap kata.
“Buatkan friendster, dong…,” katanya.
“Sini, KTP-nya, saya buatkan… Hehehe…”
“Ah, besok-besok aja, ya… Gampang…”
Kami pun tertawa, dia juga berkata bahwa dia akan pergi ke Jakarta dalam waktu 3-4 hari. Dia berharap kemenangannya dapat menjadi obat, dan jika kalah berarti ke Jakarta hanya piknik.
“Ya, saya akan melampiaskan semuanya di sana. Kalau menang yaaa… bisa jadi obet, lah…”
“Amin, semoga menjadi yang terbaik,” jawab saya.
Lalu berbincang lagi hingga dia memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.
“Ke Ezy dulu, ya?”
“Iya,” jawab saya.
Dia menuntun sepeda motornya di bawah gerimis, dan saya berjalan di teras ruko. Kebetulan jarak tempat makan ke Ezy sangat dekat.
Kami masuk persewaan film Ezy. Saya mengembalikan lima film, dan dia sibuk di antara rak-rak yang penuh kaset. Dia menekuni hingga resensi setiap film. Wah orang telaten juga, batin saya. Setahu saya, lelaki kurang suka drama romantis seperti saya. Dia juga cenderung suka film thriller, perang, komedi, atau yang diangkat dari kisah nyata. Saya tak bisa memaksanya mengikuti selera saya: Shakespeare in Love, The Lake House, The Devil Wears Prada, Alvin and the Chipmunks, Turtles Can Fly, It’s A Girl Boy Things, A Cinderella Story, Berbagi Suami, Cinta Pertama, The Photograph, CJ7, New World, Selamanya, Kangen, I Not Stupid, 27 Dresses, Enchanted…
Setahu saya, dulu saat awal saya mengenalnya, dia masih menyimpan Zodiac. Waw… thriller psikologis!
Pelajaran moral kelima: Boleh belajar menyukai film-film selera lelaki, tapi jangan memaksakan diri kalau memang berakibat buruk bagi kita. Misalnya paranoid, jadi insomnia, atau malah menjadi semacam kepribadian! Juga tak perlu memaksakan selera kita pada lelaki. Cukup menawarkan, jika diterima berarti bisa nonton bareng, tapi kalau dia tak berminat ya kita nonton dengan yang seleranya sama dengan kita. Film untuk menghibur dan belajar, kok, bukan penyulut untuk adu selera. Percayalah, semua film keren dan para kru telah bekerja maksimal untuk memberi tontonan bagi kita. Saya pernah mencoba menyukai film thriller yang keras, ternyata saya malah migrain karena terlalu lama di depan laptop sambil berpikir. Kalau film drama romantis dan anak-anak, saya bisa belajar dan terhibur. Kuncinya adalah jujur saja, dan meskipun selera dapat dipelajari, namun tak dapat dipaksakan.
Setelah hampir sejam berkutat di Ezy, saya memutuskan untuk tidak meminjam film. Toh laptop sedang tidak saya bawa. Biar dia saja yang pinjam. Ehmmm… sedikit membahagiakannya tak apa, ‘kan? Saya rasa itu tidak berlebihan, karena saya masih punya deposit di Ezy.
“Mmm… Asterix Obelix yang Olympiade mana, ya?” dia seperti menggumam sendiri. Saya berkeliling mencarinya. Perasaan saya pernah menemukannya, ternyata bukan judul yang dimaksud.
“Kung Fu Dunk, ada nggak?”
Saya menoleh ke rak belakang, dan saya cepat menemukannya.
“Ini?”
“Ya, pinjam itu.”
“Oke. Apa lagi, Mas?”
“Lha kamu? Nggak pinjem?”
“Nggak ah… mau diputer dimana? Laptopnya lagi dibawa adek…”
“Oooh…”
Pelajaran moral keenam: Tak usahlah terlalu banyak memaksakan diri dan berkorban, jika mereka tak mengacuhkannya, sakitnya lebih terasa. Sesekali tidak memenuhi maunya, dan menyerahkan mereka pada ahlinya, itu lebih baik. Pada lelaki-lelaki sebelumnya, terutama kekasih kedua saya, saya selalu berusaha mencarikan apapun yang mereka tanyakan pada saya. Meski dia hanya bertanya ringan, “Rejuvenasi itu apa ya?” Saya langsung mencari ke berbagai macam sumber. Saya ingin menjadi orang pertama yang menemukannya. Begitu ketemu dan saya sampaikan padanya, dia hanya menjawab ringan, “Sudah kok, tadi tanya guru kewarganegaraan…” Pernah juga salah satu lelaki saya datang ke rumah sekedar bertanya apakah saya punya buku Amandemen Undang-Undang Dasar 1945. Demi Tuhan saya segera bersepeda ke toko buku, lalu meneleponnya bahwa saya sudah menyediakan buku itu untuknya. “Oh, terima kasih, saya sudah membelinya di toko buku…” Hmmm. Tau kenapa saya segera mengusahakan buku itu untuknya? Karena saya ingin terlihat hebat di matanya, dan ternyata malah sakit yang saya rasakan. Padahal itu kan hal yang sangat sepele? Pada saat-saat tertentu yang di luar kemampuan kita, lebih baik kita serahkan mereka pada ahlinya. Kita lebih dianjurkan belajar menjadi guru, perawat, istri, manajer, satpam, catering, hingga mekanis lelaki belahan jiwa kita. Namun jika misalnya dia patah tulang, kita juga yang menjadi dokter bedah? Sementara kita hanya spesialis perawat, misalnya…Bisa janda, dooong…
Dia lalu berjalan lebih ke dalam, dan menunjukkan sebuah kaset bersampul hitam.
“Ni bagus, Mbak… Tapi agak membosankan,” katanya sambil menyodorkan kaset itu pada saya.
Saya menerimanya, menelitinya, dan membaca sinopsisnya.
“Ehmmm… Iya, nih, kayaknya bagus… Johnny Deep ya? Mau pinjem?”
“Boleh.”
Film kedua, Secret Window.
Dia lalu menunjuk Shottas di bagian Recent Release, dan saya menerima film ketiga.
“Apa lagi, ya?”
Dia lalu berjalan di jajaran film Indonesia, dan saya berjalan di sebelahnya. Dia menunjuk sebuah kaset bersampul merah sambil tersenyum nakal.
“Ini, lho, Mbak… Bagus, hahaha…”
Saya melihat film itu. Dibintangi oleh Nova Eliza, Fathir, dan Restu Sinaga. Judul filmnya: ‘Susahnya Jadi Perawan’.
Sialan! Saya juga tertawa.
“Eh, di sini kalo Catalog pinjem tiga dapat bonus satu, ya?”
“Iya. Eh, tapi ini ada yang Recent Release, sih…”
“Ya udah, itu saja.”
Terakhir, dia menyerahkan Hustle & Flow pada tangan saya. Saya berjalan ke kasir, menyerahkan keempat film itu.
“Yakin, hanya ini saja?” tanya saya.
“Ya, sudahlah, cukup.”
Kami menyewa empat film, semuanya dipotong dari deposit saya.
Kami menuju parkiran, siap untuk pulang. Hujan masih turun sedikit, membasahi jok. Saya tak segera duduk melihat dia berusaha mengelap jok sepeda motornya dengan lengan jaketnya, dari depan ke belakang. Saya kasihan melihatnya, namun menghargai usahanya dengan mengurungkan niat saya mengambil tisu.
Ternyata dia ksatria juga! Ya… sedikit saja bersikap manja dan ingin dilayani, semoga membuatnya merasa berharga dan dibutuhkan. Lalu kami menaiki sepeda motor itu dan segera pulang.
Dia mengemudikan motornya dalam kecepatan sedang, sehingga kami masih saling berbincang.
“Tenang saja, kalau kita tidak merasakan pahit mana mungkin dapat merasakan yang manis? Iya, ‘kan? Semangat! Semangat!”
Dia menoleh sedikit ke belakang, lalu menghadap depan lagi.
“Yaaak!!! Benarrr!!!”
Tanpa saya melihat wajahnya, saya merasakan semangat dalam suaranya. Firasat saya, sesuatu yang baik akan terjadi.
Malam itu tak akan saya lupakan: Selasa, 6 Januari 2009.
