Tuesday, January 27, 2009

Kencan Terbaru ala SactroZiLLa

Penerapan Pelajaran Moral pada KENCAN TERBARU!!!

 

“Ni lg d dpn laptop, blm mkn, u?”

Dari pesan pendek itu kami makan malam bersama di luar. Dia datang ke kos dengan kaos hitam yang tertutup jaket hitam, celana jeans gombrong, mata yang agak lelah, dan rambut yang sedikit basah.

“Yuk, makan dimana?” tanyanya.

“Terserah seleramu…”

Saya tak tahu seleranya, karena kami belum banyak kenal. Beberapa bulan lalu saat malam minggu dia datang ke kos dan pulang pada pukul setengah sepuluh malam. Dia banyak bercerita tentang karir, hobi, dan keluarganya.

“Oke.”

Aaah… untunglah, lelaki ini bisa mengambil keputusan tanpa harus saling melempar pertanyaan.

“Mampir Ezy, nggak?”

“Gampang,” katanya enteng sambil meraih helm.

 

Menyusuri gang keluar menuju jalan raya, hujan turun lumayan deras. Sialan, batin saya. Saya berdoa semoga malam cerah, dan kami tak perlu berlama-lama menunggu hujan.

 

Pelajaran moral pertama: Dengan kekasih pertama, kedua, dan ketiga saya dulu, dalam kondisi hujan apapun bisa saja terjadi! Misalnya:

a.      Dalam kondisi dingin, lelaki melingkarkan jaket ke wanita, kira-kira berapa percepatan degup jantung atau aliran darah si wanita? Mungkin jatuh cinta, mungkin tidak.

b.     Dalam kondisi dingin, ketika kendaraan harus menepi dan berteduh di beranda toko yang tutup dan sepi, secara tak sengaja tangan hangat lelaki menyenggol pergelangan tangan wanita, kira-kira berapa kuat sengatan di hati wanita? Mungkin jatuh cinta, mungkin tidak.

c.      Dalam kondisi dingin, saya sering alergi. Bersin. Lelaki menatap saya. Seperti di film-film, bisa datang perhatian, bisa tidak.

d.     Dalam kondisi dingin, berteduh, tak mungkin saling diam. Berbicara adalah salah satu cara menghangatkan badan. Tak percaya? Cobalah pergi dengan target Anda saat hujan turun dan tak membawa jas hujan, lalu ajak dia menepi. Terutama pada waktu antara sore samapi malam hari. Pembicaraan ringan, hingga membuka diri masing-masing. Dari sana timbul empati. Bisa jatuh cinta, bisa tidak.

 

Karenanya, saya berharap hujan segera reda. Bukan takut jatuh cinta, saya tak mau hanyut. Saya selalu mengartikan hingga momen-momen terkecil. Saya masih takut sakit lagi.

Hujan masih turun, tak terlalu lebat tapi mampu membasahi kami. Refleks, saya menyentuh lengan jaketnya.

“Waaah, Mas, basah nih, jadi nggak enak…”

“Alaaah… nggak pa-pa, hujan kecil ini…”

Dia tetap mengemudikan motornya.

“Kalau bawa jas hujan dipake aja nggak pa-pa lo, Mas.”

“Hahaha… lha itu, kebetulan nggak bawa. Udah, basah dikit aja kok.”

Sampai di jalan besar, dia menoleh ke belakang, lalu ke depan lagi. Menoleh ke arah saya, lalu ke depan lagi.

“Kenapa, Mas?”

“Oooh… nggak… saya kira nggak pake helm.”

“Hehe…”

           

Lalu dia menepikan sepeda motor yang kami tumpangi di sebuah warung tenda lesehan. Dia memesan bebek goreng dan jeruk hangat. Saya memilih tempe dan teh panas.

“Kok tempe saja? Nggak ayam, lele, atau bebek? Seafood juga ada, tuh…”

“Nggak, saya nggak suka daging.”

“Vegetarian?” tanyanya.

“Bukan juga, Cuma saya ingat kalo hidup, kasihan… Nggak pa-pa kok, tempe aja… Memang aneh ya? Ayam, bebek, dan sebangsa unggas saya nggak suka.”

“Terus proteinnya dari mana, dong?”

Wah, dasar orang kesehatan! Tapi dalam hati saya bahagia juga diperhatikan demikian, walau sedikiiit…

“Tempe, susu, telur…”

“Iya, sih…”

Pesanan datang, dan lalapannya dijadikan dalam satu piring. Mangkuk cuci tangan juga disodorkan. Nasi dalam satu piring, dan lauk di piring yang lain. Saya sendiri makan menggunakan sendok, karena saya tak bisa memungut nasi dengan tangan.

“Mas, mau sambel lagi? Mumpung masih belum saya sentuh nih, saya nggak suka sambel.”

“Ya, gampang, nanti.”

Jawaban yang demikian tidak membutuhkan penawaran kedua, karena nanti pasti sudah terkena sendok makan saya. Yah, biarkan saja dia makan sesuai seleranya.

 

Pelajaran moral kedua: Pada lelaki-lelaki sebelumnya, saya selalu menawarkan dan menyediakan apa yang mereka sukai terus menerus. Sudah merupakan alasan umum jika wanita ingin membahagiakan kekasihnya. Misalnya pacar ketiga saya suka teh Gopek yang diseduh dengan air mendidih, dibiarkan sampai merah dan agak hangat, lalu disajikan setelah disaring. Setiap kedatangannya saya selalu menyediakan itu, karena saya mencintainya dan saya pikir dia pasti bahagia karenanya. Ternyata saya salah. Suatu saat dia merasakan nikmatnya jahe hangat yang dibuatkan Azizah, teman sekantornya, pada saat lelaki itu batuk parah. Jelas lebih hangat. Ketika dia berkata, “Ik, kemarin aku minum jahe Azizah, enak, hangat… Gimana kalau kamu buatkan itu untukku?”

Saat itu saya nyolot dan marah, “Oooh… jadi punya Azizah lebih enak? Kenapa nggak minta dibuatkan Azizah aja?” “Kok marah?” tanyanya. Sekarang saya baru menyadari dalam sebuah pelajaran moral, ternyata kebosanan itu timbul suatu saat. Saya memang salah. Di lain waktu, dia suka roti bakar coklat, dan ingin yang stroberi. Oh, okelah, saya menyadari seiring dengan berjalannya waktu.

Sekarang saya tahu, penawaran pertama sudah cukup, dan jika nanti dia menghendaki tambah atau minta sambal lagi saya siap. Ternyata selalu memberi atau menawarkan sesuatu tidak selamanya tepat dengan apa yang dibutuhkan dan diinginkan lelaki, dan memaksanya adalah tindakan yang buruk. Pertama, lelaki bosan dan terganggu. Kedua, jika kondisi emosi sedang buruk, kita juga yang sakit hati dan merasa tak berguna. Bisa menangis, bisa nggak.

 

Makan malam, ngobrol, dan saya lebih banyak mendengarkan. Sumpah! Baru kali ini saya mendengarkan dengan nyaman. Pada lelaki-lelaki sebelumnya, kebanyakan saya lebih menguasai pembicaraan. Di antara teman-teman, saya juga yang paling cerewet plus destroyer. Bahkan pacar ketiga saya meninggalkan saya karena kemampuan mendengarkan saya termasuk buruk: tak mau kalah, dan suka membicarakan diri sendiri.

Sekarang?

Lelaki ini yang terkenal pendiam di seluruh kalangan, tak henti-hentinya berbicara. Memang dia sedang mengalami pukulan yang sangat berat, dan bagi saya dia yang berhak menghabiskan kata malam itu.

Demi Tuhan, saya speechless!!!

Saya mengabdikan waktu saya untuk benar-benar mendengarkannya, karena saya memang memiliki niat itu. Saya merasa membutuhkan diri saya sebagai pendengar. Saya lebih nyaman menjadi pendengar.

 

Pelajaran moral ketiga: Pada saat-saat tertentu lelaki suka diam, tetapi mereka juga dapat merasakan nyamannya didengarkan saat mereka memang butuh bercerita. Pada lelaki-lelaki sebelumnya, saya selalu menanggapi, menyanggah, atau bertanya setiap mereka selesai berbicara. Namun saya belajar dari Sosaku Kobayashi dan Momo, mendengarkan yang benar adalah dengan hati, melalui telinga, dan ketulusannya terpancar lewat pandangan mata.

Berlebihankah? Saya kira tidak… Mendengar jenis ini adalah benar-benar mendengarkan, merasakan, tanpa harus bertanya sekedar menunjukkan perhatian, tanpa menanggapi dan memberi solusi yang mungkin dapat mempengaruhi pendiriannya, atau bahkan menyanggah karena tak sesuai dengan intepretasi kita yang dapat menyulut emosinya.

Cukup mendengar.

Pada satu saat lelaki memang mendeskripsikan. Mereka tak suka kita memotong kalimatnya pada saat itu.

 

Dan saya turut bersimpati atas kebelumberuntungan yang menimpanya. Saya berharap dia nyaman tanpa saya memotong tuturannya. Kami memang tetap sambil makan, dan kegagalan-kegagalan saya yang lalu telah memberi pelajaran bagaimana sikap makan sambil mendengarkan yang tidak mengganggu kenyamanannya. Melihat gaya makannya, dia sedang benar-benar emosi berkaitan dengan karirnya. Masa depan yang telah dijanjikan padanya, ternyata jatuh pada orang lain, sahabatnya sendiri.

Bebek gorengnya masih banyak sisa, dan dia minta tambah sepiring nasi.

Saya melihat kekecewaannya.

Dia duduk lagi. Mulai mempertemukan daging bebek dengan nasi, lalu menyuapkan ke mulutnya. Saya sendiri sudah hampir habis.

“Saya bohong kalau saya tidak kecewa.”

Dia membolak-balik lalapan dan membanting-banting kubis di piring yang berada di antara piring saya dan piringnya.

“Ya, saya melihatnya dari mata Mas. Memang berat yang demikian, tapi pasti Tuhan sedang merencanakan yang lebih baik buat Mas.”

Klise, ya? Tapi pasti terjadi.

Dia lalu bertanya tentang pekerjaan saya, saya jawab apa adanya. Masih sambil menghabiskan makanan kami.

“Eh, di sini sebentar lagi ya…”

“Hah? Eh… ya…,” jawab saya sedikit gugup.

Gerimis memang masih turun, dan saya tak berani menebak mengapa dia mengajak saya tinggal sejenak untuk mengobrol.

Dan kami mengobrol. Mengalir saja, dan ternyata itu lebih menyenangkan.

Jelas sekali dia orang baru dalam dunia saya, dan saya baru mengenal dunianya.

 

Pelajaran moral keempat: Jangan memaksakan diri menyesuaikan pembicaraan, jangan sok tahu, dan jangan malu bertanya sesuatu yang memang belum kita tahu. Pada seorang lelaki yang pernah dekat dengan saya, saya selalu memaksakan diri mengimbangi jalan pikirnya. Dia anaknya dosen IPB, sekarang PNS di sebuah badan berskala nasional, dan kepalanya semacam samudra ilmu pengetahuan. Demi menjadi teman bicara yang nyaman, saya memaksakan diri menerjemahkan kata-katanya. Padahal dia tak meminta saya demikian rumit, dia hanya menceritakan pengalamannya dan memotivasi saya. Sisi positifnya, saya banyak belajar. Sisi negatifnya,  saya jadi tak menikmati pembicaraan karena sibuk berpikir sesuatu yang sebenarnya sederhana. Lelucon-lelucon yang saya lontarkan jadi terasa ‘maksa’ dan nggak asik sama sekali. Maka, obrolan yang harusnya santai jadi membuat kerongkongan tegang karena mengunyah setiap kata.

 

“Buatkan friendster, dong…,” katanya.

“Sini, KTP-nya, saya buatkan… Hehehe…”

“Ah, besok-besok aja, ya… Gampang…”

Kami pun tertawa, dia juga berkata bahwa dia akan pergi ke Jakarta dalam waktu 3-4 hari. Dia berharap kemenangannya dapat menjadi obat, dan jika kalah berarti ke Jakarta hanya piknik.

“Ya, saya akan melampiaskan semuanya di sana. Kalau menang yaaa… bisa jadi obet, lah…”

“Amin, semoga menjadi yang terbaik,” jawab saya.

Lalu berbincang lagi hingga dia memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.

“Ke Ezy dulu, ya?”

“Iya,” jawab saya.
Dia menuntun sepeda motornya di bawah gerimis, dan saya berjalan di teras ruko. Kebetulan jarak tempat makan ke Ezy sangat dekat.

Kami masuk persewaan film Ezy. Saya mengembalikan lima film, dan dia sibuk di antara rak-rak yang penuh kaset. Dia menekuni hingga resensi setiap film. Wah orang telaten juga, batin saya. Setahu saya, lelaki kurang suka drama romantis seperti saya. Dia juga cenderung suka film thriller, perang, komedi, atau yang diangkat dari kisah nyata. Saya tak bisa memaksanya mengikuti selera saya: Shakespeare in Love, The Lake House, The Devil Wears Prada, Alvin and the Chipmunks, Turtles Can Fly, It’s A Girl Boy Things, A Cinderella Story, Berbagi Suami, Cinta Pertama, The Photograph, CJ7, New World, Selamanya, Kangen, I Not Stupid, 27 Dresses, Enchanted…

Setahu saya, dulu saat awal saya mengenalnya, dia masih menyimpan Zodiac. Waw… thriller psikologis!

 

Pelajaran moral kelima: Boleh belajar menyukai film-film selera lelaki, tapi jangan memaksakan diri kalau memang berakibat buruk bagi kita. Misalnya paranoid, jadi insomnia, atau malah menjadi semacam kepribadian! Juga tak perlu memaksakan selera kita pada lelaki. Cukup menawarkan, jika diterima berarti bisa nonton bareng, tapi kalau dia tak berminat ya kita nonton dengan yang seleranya sama dengan kita. Film untuk menghibur dan belajar, kok, bukan penyulut untuk adu selera. Percayalah, semua film keren dan para kru telah bekerja maksimal untuk memberi tontonan bagi kita. Saya pernah mencoba menyukai film thriller yang keras, ternyata saya malah migrain karena terlalu lama di depan laptop sambil berpikir. Kalau film drama romantis dan anak-anak, saya bisa belajar dan terhibur. Kuncinya adalah jujur saja, dan meskipun selera dapat dipelajari, namun tak dapat dipaksakan.

 

Setelah hampir sejam berkutat di Ezy, saya memutuskan untuk tidak meminjam film. Toh laptop sedang tidak saya bawa. Biar dia saja yang pinjam. Ehmmm… sedikit membahagiakannya tak apa, ‘kan? Saya rasa itu tidak berlebihan, karena saya masih punya deposit di Ezy.

“Mmm… Asterix Obelix yang Olympiade mana, ya?” dia seperti menggumam sendiri. Saya berkeliling mencarinya. Perasaan saya pernah menemukannya, ternyata bukan judul yang dimaksud.

“Kung Fu Dunk, ada nggak?”

Saya menoleh ke rak belakang, dan saya cepat menemukannya.

“Ini?”

“Ya, pinjam itu.”

“Oke. Apa lagi, Mas?”

“Lha kamu? Nggak pinjem?”

“Nggak ah… mau diputer dimana? Laptopnya lagi dibawa adek…”

“Oooh…”

 

Pelajaran moral keenam: Tak usahlah terlalu banyak memaksakan diri dan berkorban, jika mereka tak mengacuhkannya, sakitnya lebih terasa. Sesekali tidak memenuhi maunya, dan menyerahkan mereka pada ahlinya, itu lebih baik. Pada lelaki-lelaki sebelumnya, terutama kekasih kedua saya, saya selalu berusaha mencarikan apapun yang mereka tanyakan pada saya. Meski dia hanya bertanya ringan, “Rejuvenasi itu apa ya?” Saya langsung mencari ke berbagai macam sumber. Saya ingin menjadi orang pertama yang menemukannya. Begitu ketemu dan saya sampaikan padanya, dia hanya menjawab ringan, “Sudah kok, tadi tanya guru kewarganegaraan…” Pernah juga salah satu lelaki saya datang ke rumah sekedar bertanya apakah saya punya buku Amandemen Undang-Undang Dasar 1945. Demi Tuhan saya segera bersepeda ke toko buku, lalu meneleponnya bahwa saya sudah menyediakan buku itu untuknya. “Oh, terima kasih, saya sudah membelinya di toko buku…” Hmmm. Tau kenapa saya segera mengusahakan buku itu untuknya? Karena saya ingin terlihat hebat di matanya, dan ternyata malah sakit yang saya rasakan. Padahal itu kan hal yang sangat sepele? Pada saat-saat tertentu yang di luar kemampuan kita, lebih baik kita serahkan mereka pada ahlinya. Kita lebih dianjurkan belajar menjadi guru, perawat, istri, manajer, satpam, catering, hingga mekanis lelaki belahan jiwa kita. Namun jika misalnya dia patah tulang, kita juga yang menjadi dokter bedah? Sementara kita hanya spesialis perawat, misalnya…Bisa janda, dooong…

 

Dia lalu berjalan lebih ke dalam, dan menunjukkan sebuah kaset bersampul hitam.

“Ni bagus, Mbak… Tapi agak membosankan,” katanya sambil menyodorkan kaset itu pada saya.

Saya menerimanya, menelitinya, dan membaca sinopsisnya.

“Ehmmm… Iya, nih, kayaknya bagus… Johnny Deep ya? Mau pinjem?”

“Boleh.”

Film kedua, Secret Window.

Dia lalu menunjuk Shottas di bagian Recent Release, dan saya menerima film ketiga.

“Apa lagi, ya?”

Dia lalu berjalan di jajaran film Indonesia, dan saya berjalan di sebelahnya. Dia menunjuk sebuah kaset bersampul merah sambil tersenyum nakal.

“Ini, lho, Mbak… Bagus, hahaha…”

Saya melihat film itu. Dibintangi oleh Nova Eliza, Fathir, dan Restu Sinaga. Judul filmnya: ‘Susahnya Jadi Perawan’.

Sialan! Saya juga tertawa.

“Eh, di sini kalo Catalog pinjem tiga dapat bonus satu, ya?”

“Iya. Eh, tapi ini ada yang Recent Release, sih…”

“Ya udah, itu saja.”

Terakhir, dia menyerahkan Hustle & Flow pada tangan saya. Saya berjalan ke kasir, menyerahkan keempat film itu.

“Yakin, hanya ini saja?” tanya saya.

“Ya, sudahlah, cukup.”

Kami menyewa empat film, semuanya dipotong dari deposit saya.

Kami menuju parkiran, siap untuk pulang. Hujan masih turun sedikit, membasahi jok. Saya tak segera duduk melihat dia berusaha mengelap jok sepeda motornya dengan lengan jaketnya, dari depan ke belakang. Saya kasihan melihatnya, namun menghargai usahanya dengan mengurungkan niat saya mengambil tisu.

Ternyata dia ksatria juga! Ya… sedikit saja bersikap manja dan ingin dilayani, semoga membuatnya merasa berharga dan dibutuhkan. Lalu kami menaiki sepeda motor itu dan segera pulang.

Dia mengemudikan motornya dalam kecepatan sedang, sehingga kami masih saling berbincang.

“Tenang saja, kalau kita tidak merasakan pahit mana mungkin dapat merasakan yang manis? Iya, ‘kan? Semangat! Semangat!”

Dia menoleh sedikit ke belakang, lalu menghadap depan lagi.

“Yaaak!!! Benarrr!!!”

Tanpa saya melihat wajahnya, saya merasakan semangat dalam suaranya. Firasat saya, sesuatu yang baik akan terjadi.

Malam itu tak akan saya lupakan: Selasa, 6 Januari 2009.

Posted by iksa in 07:43:30 | Permalink | Comments (2)

Wednesday, January 23, 2008

Harga Sebuah Kenangan_REKAMAN

“Bapak, Ibu… Saya mau menyanyi…”

Bapak mendudukkan saya di pangkuan Ibu. Ibu menyodorkan mikrofon, di depan mulut saya. Ssaya diam malu-malu. Usia saya belum genap dua tahun, tetapi saya selalu berceloteh.

“Ayo, Mbak Ika, ikuti kata Bapak,” kata Bapak sabar, “Bapak, Ibu…Mbak Ika mau menyanyi…”

Ibu juga menuntun saya. Wanita berambut panjang itu mulai menyanyikan lagu Garuda Pancasila. Saya mengikutinya sambil melonjak-lonjak.

“Bu… pipis…,” keluh saya di akhir nyanyian saya. Bapak merekam semuanya. Nyanyian, nasehat, dan tanya-jawab keluarga itu. Setelah saya pipis diantar Ibu, kami kembali rekaman.

“Mbak Ika putranya siapa?” pancing Bapak.

“Bapak… Naswan.”

“Sama siapa?”

“Ibu Mung.”

Demikian kami bercanda. Tertawa bersama, di sebuah rumah dinas yang kami jadikan naungan. Rumah itu hanya berisi tiga kamar berjajar, lurus dari depan ke belakang, menghadap ke tenggara. Rumah itu tidak buruk, namun jauh dari mewah. Mungkin sudah berdiri lama sebelum pemberontakan PKI meletus. Di sampingnya berdiri sebuah pohon beringin sekelas pohon beringin di alun-alun, dan akarnya sampai masuk rumah. Teduh, tanpa tetangga. Sekelilingnya adalah hamparan sawah yang subur.

Bapak dan Ibu menikah dua tahun sebelum saya lahir. Bapak seorang PNS yang baru saja diangkat saat saya berusia setahun. Ibu adalah ibu rumah tangga yang aktif di Dharma Wanita. Saya kecil tinggal nyaman di keluarga yang sederhana. Tidur di dipan bersepereikan tikar plastik, bukan kasur. Bapak dan Ibu bertekad membesarkan anak-anak mereka sendiri.

Bapak senang mengabadikan setiap kesempatan yang melibatkan keluarga. Bapak membuat lukisan air terjun tepat setelah saya lahir, sehari sebelum peringatan kemerdekaan Indonesia. Bapak sering mengajak saya berfoto di studio. Saya juga suka ‘ditanggap’ Bapak dan Ibu untuk direkam dengan radio kotak yang ada tape-recordernya. Saat itu belum musim tape pocket, apalagi handycam.

“Untuk kenang-kenangan dan koleksi,” kata Bapak setiap kali orang mempertanyakan kebiasaannya.

Bapak lalu melarang saya kecil bermain-main dengan tanah dan pasir. Tak peduli berapa pun uang yang harus dikeluarkan, Bapak lebih memilih membelikan mainan plastik untuk saya. Saya sendiri tak pernah lepas dari Ibu, kulit saya selalu bersentuhan dengan kulit Ibu.

Bapak dan Ibu bercerita pada saya. Pernah suatu ketika, Ibu mengikuti lomba gerak jalan di pendopo kabupaten. Ibu yang berdiri di tengah-tengah barisan terenyuh  melihat Bapak mengemban (menggendong dengan selendang) saya di luar pagar besi yang menjadi batas antara trotoar dengan lapangan pendopo. Saya diam saja, dan ketika ada tanda-tanda saya akan menangis, Bapak akan menunjukkan Ibu pada saya dari kejauhan. Satu tangan Bapak memegang sebuah tas. Saya kecil masih berusia dua tahun.

Dari balik pagar besi setinggi bahu orang dewasa itu, Ibu ingin segera mengakhiri lomba, dan menghambur dari barisan untuk memeluk saya. Namun Ibu membawa nama instansi, dan bagaimana pun itu mengangkat karir Bapak sebagai PNS.

Tak hanya rekaman kaset, semua kenangan itu tetap terekam dalam ingatan serta hati Bapak dan Ibu. Semuyanya tersusun rapi, dsan siap dibuka setiap saat dengan jelas…

Salatiga, hari sekian bulan pertama tahun ini.
4 My Lovely family…
Saya akan mengusahakan lelaki yang mencitaimu, keluargaku…
Posted by iksa in 06:29:06 | Permalink | No Comments »

Harga Sebuah Kenangan…

“Rasanya aku mampu berdiri di tempatku yang sekarang sepanjang usiaku hanya untuk mengenang semuanya… Hingga setiap jalan yang pernah kami lalui, setiap toko yang pernah kami masuki, setiap remah makanan dan tetes minuman yang kami nikmati, setiap stel baju dan aksesoris yang kami pakai, setiap huruf yang tercurah dalam bentuk kata, setiap hawa yang kami hirup, dan setiap kedipan serta arah pandang kami.
Aku tak mampu menghafal semuanya, tak sanggup mengingatnya, namun aku benar-benar merasakannya.
Karenanya, aku mengenang semuanya…”

ikaaguspurwanti
pati, 221107_11:43am

Saya sampaikan terima kasih kepada semua yang telah mengukir kenangan dalam hidup saya:
keluarga,
saudara,
rekan karib,
kekasih-kekasih,
teman,
dan semua tokoh protagonis, antagonis, maupun tritagonis dalam hidup saya.

Terima kasih atas segenap cinta maupun cemoohan yang telah diteteskan pada saya.

Posted by iksa in 06:17:25 | Permalink | No Comments »

Tuesday, January 22, 2008

My Juli

Namanya Juli, sarjana Pendidikan Luar Sekolah yang sekarang jadi rekan karib saya. Lahir di Jepara, 3 Juli 1984. Potongannya bob, persis Dian Sastro.

Dulu dia seorang komting di kelas.Tegasnya setengah mati.Saat sampai di kampus, dia rajin me-misscall teman-temannya yang masih tidur manis di kos. Dia paling anti melihat dosen marah gara-gara temannya belum pada datang. Semua tugasnya selalu diselesaikan dengan rapi dan jauh sebelum tenggat waktu.

Dia super chief yang hebat sekaligus tangguh. Menjadi motivator bagi teman-temannya.Dia juga wiraswastawati yang gigih. Hebat, kan?

Dia pendoa, sekaligus sebagai umat Tuhan yang selalu pasrah akan kuasa-Nya, namun tidak menyerah.
Dia pernah merasakan patah hati yang teramat sangat, saat lelaki-lelaki yang diharapkannya pergi satu per satu. Pasti suatu saat dia memperoleh tulang rusuk yang memang ditakdirkan Tuhan sebagai belahan jiwanya.

Rupanya semua wanita yang akan menikah perlu belajar darinya… Karena dia memang memiliki semua yang dibutuhkan seorang suami.

Tapi… tak perlu memaksakan diri mengurangi berat badan ya, Ju… Belahan jiwa yang sejati tentu menerima wanita hebat seperti dia apa adanya…

Dan dia seorang pendidik yang lantang menyampaikan kebenaran, santun menyampaikan sapa, tulus melantunkan doa, dan tertawa tanpa henti alias ngakak, huahahahahahahahahaha……!!!

Wah, sudah dulu sajalah, takutnya saya tak jadi dibuatkan ca kangkung favorit saya, hehehehehe…

Posted by iksa in 03:06:32 | Permalink | No Comments »

MONEY…

MONEY…
It can buy a house, but not a home

It can buy a clock, but not a time

It can buy a position, but not a respect

It can buy a bed, but not sleep

It can buy a book, but not a knowledge

It can buy a medicine, but not health

It can pay a wonderful wedding planner, but not a funny family

It can pay a friendster, but not a friendship

You see money isn’t everything… I tell U this because we’re friends…

(Dari Ika ‘Klipang’ kepada Hamidah, Wisma Bathari Semarang, 2006)

Posted by iksa in 02:48:29 | Permalink | No Comments »

Sunday, January 20, 2008

CoolLord, May I be a Geisha… But, keep safe my Mizuage.Innocent

I need Chanoyu.
Posted by iksa in 08:56:12 | Permalink | No Comments »

Pesan Beppo pada Momo

Berikut saya sebutkan kata-kata Beppo kepada Momo yang saya kutip dari novel “MOMO”, buah karya Michael Ende. Pesannya sangat sederhana, karena Momo sendiri adalah anak kecil 10-12 tahun yang tiba-tiba tinggal di reruntuhan amfiteater. Beppo adalah tukang sapu jalanan kota itu, usianya kira-kira sudah lebih dari setengah baya.

“Begini, Momo. Kadang-kadang jalanan membentang panjang di depan kita. Dan kita pikir jalannya panjang sekali, takkan ada yang sanggup, begitu kita pikir. Dan habis itu kita mulai terburu-buru. Dan setiap kali menoleh, kita melihat bahwa jalanan yang belum dikerjakan tetap saja panjang. Dan kita semakin kalang-kabut, kita mulai ketakutan, akhirnya kita kehabisan napas dan tidak sanggup meneruskan pekerjaan. Dan jalanan tetap saja membentang. Itu cara yang keliru. Kita jangan pikirkan seluruh jalanan sekaligus, kau mengerti? Pikirkan langkah berikut saja, tarikan napas berikut, ayunan sapu berikut. Lalu yang berikutnya lagi. Dengan cara itu, pekerjaan kita akan menyenangkan. Itu penting, sebab kita jadi bekerja dengan baik. Dan begitulah seharusnya”.


Beppo Tukangsapujalanan kepada Momo,
Momo:42-43

Ketika saya berdiri di hadapan warga belajar di kelas, dan merasa dikejar-kejar dua hal yang pasti ada (tenggat waktu dan materi yang harus disampaikan kepada warga belajar), saya selalu mengingat kata-kata Beppo.

Demikian juga ketika saya mendengar dari para pamong bahwa ujian nasional Pendidikan Non Formal dilaksanakan Bulan Maret, sementara tanggal merah bertebaran di mana-mana, saya hanya dapat berdoa, “Semoga mereka mendapat kemudahan…”

Tak ada yang lebih berharga bagi seorang pengantar manusia kepada ilmu, selain melihat yang diantar dapat meraih apa yang dibutuhkan dan menjadi manusia yang bermanfaat…

Saya titip salam untuk semua pendidik…

Posted by iksa in 08:47:09 | Permalink | No Comments »

MY CONFESSION…

Saya pernah bermain taruhan pacaran dengan teman-teman sewaktu kelas 1 SMA. Saya mendapatkan kekasih posesif yang tidak benar-benar saya cintai. Saya merasakan sakit di perasaan ketika saya harus mengakhiri semuanya, tanggal 12 Maret 2001,kala dia benar-benar mencintai saya. Tapi dia posesif, meski terlalu baik namun tak begitu tampan. Maaf, saya tak bisa… Hidup yang singkat ini terlalu berharga untuk saya habiskan bersama lelaki yang tangannya riang dan menutup jalan nafas saya.

Saya pernah merasa menyesal yang sangat ketika ada lelaki dekat dengan saya, mengikrarkan cintanya pada 14 Maret 2001, namun saya menganggapnya canda. Sekarang semuanya terlalu cepat berlalu. Untunglah Tuhan menunjukkan keburukannya pada saya, menjadi pertanda bahwa saya tak patut menyesalinya. Maaf, saya jadi tak cinta…

Saya pernah merasakan sedih yang teramat dalam saat saya mulai berani menunjukkan perasaan saya pada seorang lelaki pandai gacoan di kelas 3 SMA, namun dia harus menghadap kembali pada Penciptanya. Dan maaf, hanya doa yang mengiringi kepergiannya…

Saya pernah merasakan ikhlas ketika seorang lelaki yang kukira satu-satunya diperuntukkan takdir buat saya ternyata sudah memperoleh pendamping yang sebanding derajatnya. Mengapa tak terus terang saja? Maaf, saya mengikhlaskanmu dengan tanpa peduli lagi apakah dirimu bahagia atau sengsara bersamanya… Saya percayakan segalanya padamu, termasuk pendampingmu.

Saya pernah menyembunyikan tangis dalam hati hingga butiran air itu menjadi serpih-serpih kristal tajam yang mengoyak hati saya, ketika keberadaan saya tak dapat membuat bangga keluarga lelaki yang mengajak saya ke dalamnya. Maaf, Ibu saya tak punya koleksi berlian dan Bapak saya tak memiliki tambak, rumah mewah, dan sawah…

Saya pernah menyayangi dengan sangat, namun rasanya seperti menggarami samudera, dan lelaki itu meninggalkan saya tanpa ucapan terima kasih dan permohonan maaf. Yang ini lebih posesif. Maaf, saya tak mampu meneruskan, tapi tak kuasa mengakhiri… Untunglah lelaki itu mengakhiri semuanya. Maaf, saya rela ditinggalkan tanpa menangis, karena saya memang tak menyimpan air mata yang terlanjur menguap sebelum bergulir…

Saya pernah rela tidak menerima cinta laki-laki yang dua kali menyatakan menyatakan cintanya pada saya. Maaf, saya tak ingin mengecewakanmu…

Saya pernah sedih dan sayang ketika lelaki yang sempat singgah untuk bermain-main selama 168 jam di hati berpamitan secara baik-baik tepat pada saat saya mulai benar-benar menyayanginya. Saya tak menangis, karena saya juga bahagia saat dia lebih bahagia jika saya temannya. Dia tetap dekat dengan saya, namun saya tak berani berharap. Mungkin ada yang lebih membahagiakannya dan membuatnya sejahtera selamanya. Dia senantiasa mengajak saya berpikir. saya bersyukur pernah berjalan mengarungi hari bersamanya, meski hanya sebentar. Saya nyaman, meski tanpa peluk cium. Karena bagi saya, peluk cium sebelum pernikahan bukan indikator kedalaman cinta yang mutlak. Maaf, saya masih menyimpan kembang api, yang jika disulut suatu saat masih mampu memercikkan sinar-sinar kebahagiaan kecil yang bersatu memendarkan keelokan… Bahkan saya juga merasakan sakit ketika ternyata jalan cinta yang dilaluinya tak jauh beda dengan yang saya lalui. Lupakan saja pengakuan saya ini jika yang bersangkutan mengetahui dan keberatan akan pengakuan saya. Sekali lagi, saya mohon maaf…Semoga lelaki ini selalu mendapatkan kemudahan yang terbaik bagiNya…

Hidup ini terlalu berharga untuk diikuti penyesalan.

Saya mohon maaf kepada semua lelaki yang pernah saya hianati atau menghianati saya.

Sekarang saya bebas, terbang.

Suatu saat, saya membutuhkan tambatan yang teduh untuk hinggap, yaitu dia yang menaungi saya, dan saya percaya untuk menyimpan segala yang saya miliki. Yaitu dahan kokoh yang tetap saya izinkan tumbuh ke langit, dan tidak mengikat saya agar tak terbang. Mempercayai saya, dan tidak menyalahgunakan kepercayaan dari saya. Saya pahami, dan memahami saya. Tak sungkan menunjukkan kepribadian yang sesuangguhnya, dan tahu seperti apa saya sebenarnya. Saling membutuhkan, sekaligus saling mengokohkan ketika salah satu harus pergi. Karena suatu saat kita pasti kembali kepada Sang Pemilik dan Pemelihara.

Kepakkanlah sayap, kita terbang.

Mengarungi kehidupan yang sarat makna dan rasa.

Hari ini, ketika saya sangat takut untuk
JATUH KASIH lagi…
Lebih menakutkan, jika terjadi karena kondisi!
Posted by iksa in 08:27:38 | Permalink | No Comments »

Kenapa kalasatu?

Kenapa saya menggunakan nama kala satu sebagai blog saya?

Karena bagi saya, kala satu, atau saat sendirian, adalah saat terjujur yang kita miliki. Bahkan lebih jujur dari ketika kita bersama keluarga yang kita sayangi, lebih jujur dari waktu kita bersama belajan jiwa kita, dan lebih jujurdari saat kita mencurahkan hati kepada teman karib kita. Saat sendirian adalah saat kita benar-benar memiliki waktu yang merupakan kebebasan mengenai apa yang sedang kita pikir atau rahasiakan.

Dan bagi saya, kertas dan pena adalah teman yang tersetia. Kertas dan pena tak pernah mengeluh, seberapa pun perasaan yang kita luapkan (lha iya! Malah kita yang ngeluh sendiri karena pegel nulis, hahaha!!! Ih, kata dalam tanda kurung ini ngerusak kesan dramatisnya ya?Maap…).Kertas dan pena tak akan mencela kita, atau menertawakan kita.

Sudah lama saya tak suka persahabatan. Shit! Bagi saya yang ada adalah keluarga, saudara, teman karib, dan belahan jiwa. Sahabat adalah penghianat yang paling dekat. Itu menurut saya, karena kenyataannya demikian… Selain hubungan orangtua-anak atau saudara sekandung, bagi saya orang-orang yang mengaku ingin menjadi sahabat saya adalah orang-orang yang perlu dipertanyakan hatinya.

Bukankah teman bisa menjadi saudara karena saling berbagi dan terbukanya hati?
Bukankan teman mampu menjadi belahan jiwa ketika Tuhan telah menuntun hatinya bersatu dengan hati kita?
Bukankah teman dapat menjadi kawan karib saat kita saling mengerti dan selalu dekat?
Dan semuanya terjadi atas bantuan guliran waktu yang tak lelah memberikan cintanya pada kita. Ya, waktu sangat mencintai kita…

Tanpanya, kita tak punya kenangan tentang masa lalu, tak bisa menjalani kehidupan sekarang, dan mengangankan esok yang akan datang.

Lalu, jangan sia-siakan dia, Sang Waktu, yang telah memberi kita cinta. Jangan khianati dia, Sang Waktu, yang dengan ikhlas telah memberi saat terjujur bagi kita, Kala Satu…

Posted by iksa in 07:14:45 | Permalink | No Comments »

Friday, January 18, 2008

Untuk kita mengerti… Inzien! Inzien!!!

“Kita bisa saja memeluk masa lalu dengan sangat erat, tetapi ini berarti lengan kita tidak bisa digunakan untuk memeluk masa kini”  (Jan Glidewell).

“Semoga ada cukup banyak awan dalam hidupmu (tahun ini) agar kau mendapatkan matahari terbenam yang cantik” (Rebecca Gregory).

“Ada yang harus kita jelang setelah meninggalkan yang lain, sebagaimana kita harus meninggalkan yang lain saat menjelang sesuatu. Namun ada yang tak bisa kita tinggalkan saat menempuh keduanya, yaitu belajar dan membaca” (ik_sactro, 110808).

Posted by iksa in 05:49:51 | Permalink | Comments (1) »