Wednesday, January 23, 2008

Harga Sebuah Kenangan_REKAMAN

“Bapak, Ibu… Saya mau menyanyi…”

Bapak mendudukkan saya di pangkuan Ibu. Ibu menyodorkan mikrofon, di depan mulut saya. Ssaya diam malu-malu. Usia saya belum genap dua tahun, tetapi saya selalu berceloteh.

“Ayo, Mbak Ika, ikuti kata Bapak,” kata Bapak sabar, “Bapak, Ibu…Mbak Ika mau menyanyi…”

Ibu juga menuntun saya. Wanita berambut panjang itu mulai menyanyikan lagu Garuda Pancasila. Saya mengikutinya sambil melonjak-lonjak.

“Bu… pipis…,” keluh saya di akhir nyanyian saya. Bapak merekam semuanya. Nyanyian, nasehat, dan tanya-jawab keluarga itu. Setelah saya pipis diantar Ibu, kami kembali rekaman.

“Mbak Ika putranya siapa?” pancing Bapak.

“Bapak… Naswan.”

“Sama siapa?”

“Ibu Mung.”

Demikian kami bercanda. Tertawa bersama, di sebuah rumah dinas yang kami jadikan naungan. Rumah itu hanya berisi tiga kamar berjajar, lurus dari depan ke belakang, menghadap ke tenggara. Rumah itu tidak buruk, namun jauh dari mewah. Mungkin sudah berdiri lama sebelum pemberontakan PKI meletus. Di sampingnya berdiri sebuah pohon beringin sekelas pohon beringin di alun-alun, dan akarnya sampai masuk rumah. Teduh, tanpa tetangga. Sekelilingnya adalah hamparan sawah yang subur.

Bapak dan Ibu menikah dua tahun sebelum saya lahir. Bapak seorang PNS yang baru saja diangkat saat saya berusia setahun. Ibu adalah ibu rumah tangga yang aktif di Dharma Wanita. Saya kecil tinggal nyaman di keluarga yang sederhana. Tidur di dipan bersepereikan tikar plastik, bukan kasur. Bapak dan Ibu bertekad membesarkan anak-anak mereka sendiri.

Bapak senang mengabadikan setiap kesempatan yang melibatkan keluarga. Bapak membuat lukisan air terjun tepat setelah saya lahir, sehari sebelum peringatan kemerdekaan Indonesia. Bapak sering mengajak saya berfoto di studio. Saya juga suka ‘ditanggap’ Bapak dan Ibu untuk direkam dengan radio kotak yang ada tape-recordernya. Saat itu belum musim tape pocket, apalagi handycam.

“Untuk kenang-kenangan dan koleksi,” kata Bapak setiap kali orang mempertanyakan kebiasaannya.

Bapak lalu melarang saya kecil bermain-main dengan tanah dan pasir. Tak peduli berapa pun uang yang harus dikeluarkan, Bapak lebih memilih membelikan mainan plastik untuk saya. Saya sendiri tak pernah lepas dari Ibu, kulit saya selalu bersentuhan dengan kulit Ibu.

Bapak dan Ibu bercerita pada saya. Pernah suatu ketika, Ibu mengikuti lomba gerak jalan di pendopo kabupaten. Ibu yang berdiri di tengah-tengah barisan terenyuh  melihat Bapak mengemban (menggendong dengan selendang) saya di luar pagar besi yang menjadi batas antara trotoar dengan lapangan pendopo. Saya diam saja, dan ketika ada tanda-tanda saya akan menangis, Bapak akan menunjukkan Ibu pada saya dari kejauhan. Satu tangan Bapak memegang sebuah tas. Saya kecil masih berusia dua tahun.

Dari balik pagar besi setinggi bahu orang dewasa itu, Ibu ingin segera mengakhiri lomba, dan menghambur dari barisan untuk memeluk saya. Namun Ibu membawa nama instansi, dan bagaimana pun itu mengangkat karir Bapak sebagai PNS.

Tak hanya rekaman kaset, semua kenangan itu tetap terekam dalam ingatan serta hati Bapak dan Ibu. Semuyanya tersusun rapi, dsan siap dibuka setiap saat dengan jelas…

Salatiga, hari sekian bulan pertama tahun ini.
4 My Lovely family…
Saya akan mengusahakan lelaki yang mencitaimu, keluargaku…
Posted by iksa in 06:29:06 | Permalink | Comments Off

Tuesday, January 22, 2008

My Juli

Namanya Juli, sarjana Pendidikan Luar Sekolah yang sekarang jadi rekan karib saya. Lahir di Jepara, 3 Juli 1984. Potongannya bob, persis Dian Sastro.

Dulu dia seorang komting di kelas.Tegasnya setengah mati.Saat sampai di kampus, dia rajin me-misscall teman-temannya yang masih tidur manis di kos. Dia paling anti melihat dosen marah gara-gara temannya belum pada datang. Semua tugasnya selalu diselesaikan dengan rapi dan jauh sebelum tenggat waktu.

Dia super chief yang hebat sekaligus tangguh. Menjadi motivator bagi teman-temannya.Dia juga wiraswastawati yang gigih. Hebat, kan?

Dia pendoa, sekaligus sebagai umat Tuhan yang selalu pasrah akan kuasa-Nya, namun tidak menyerah.
Dia pernah merasakan patah hati yang teramat sangat, saat lelaki-lelaki yang diharapkannya pergi satu per satu. Pasti suatu saat dia memperoleh tulang rusuk yang memang ditakdirkan Tuhan sebagai belahan jiwanya.

Rupanya semua wanita yang akan menikah perlu belajar darinya… Karena dia memang memiliki semua yang dibutuhkan seorang suami.

Tapi… tak perlu memaksakan diri mengurangi berat badan ya, Ju… Belahan jiwa yang sejati tentu menerima wanita hebat seperti dia apa adanya…

Dan dia seorang pendidik yang lantang menyampaikan kebenaran, santun menyampaikan sapa, tulus melantunkan doa, dan tertawa tanpa henti alias ngakak, huahahahahahahahahaha……!!!

Wah, sudah dulu sajalah, takutnya saya tak jadi dibuatkan ca kangkung favorit saya, hehehehehe…

Posted by iksa in 03:06:32 | Permalink | Comments Off

MONEY…

MONEY…
It can buy a house, but not a home

It can buy a clock, but not a time

It can buy a position, but not a respect

It can buy a bed, but not sleep

It can buy a book, but not a knowledge

It can buy a medicine, but not health

It can pay a wonderful wedding planner, but not a funny family

It can pay a friendster, but not a friendship

You see money isn’t everything… I tell U this because we’re friends…

(Dari Ika ‘Klipang’ kepada Hamidah, Wisma Bathari Semarang, 2006)

Posted by iksa in 02:48:29 | Permalink | Comments Off

Sunday, January 20, 2008

Pesan Beppo pada Momo

Berikut saya sebutkan kata-kata Beppo kepada Momo yang saya kutip dari novel “MOMO”, buah karya Michael Ende. Pesannya sangat sederhana, karena Momo sendiri adalah anak kecil 10-12 tahun yang tiba-tiba tinggal di reruntuhan amfiteater. Beppo adalah tukang sapu jalanan kota itu, usianya kira-kira sudah lebih dari setengah baya.

“Begini, Momo. Kadang-kadang jalanan membentang panjang di depan kita. Dan kita pikir jalannya panjang sekali, takkan ada yang sanggup, begitu kita pikir. Dan habis itu kita mulai terburu-buru. Dan setiap kali menoleh, kita melihat bahwa jalanan yang belum dikerjakan tetap saja panjang. Dan kita semakin kalang-kabut, kita mulai ketakutan, akhirnya kita kehabisan napas dan tidak sanggup meneruskan pekerjaan. Dan jalanan tetap saja membentang. Itu cara yang keliru. Kita jangan pikirkan seluruh jalanan sekaligus, kau mengerti? Pikirkan langkah berikut saja, tarikan napas berikut, ayunan sapu berikut. Lalu yang berikutnya lagi. Dengan cara itu, pekerjaan kita akan menyenangkan. Itu penting, sebab kita jadi bekerja dengan baik. Dan begitulah seharusnya”.


Beppo Tukangsapujalanan kepada Momo,
Momo:42-43

Ketika saya berdiri di hadapan warga belajar di kelas, dan merasa dikejar-kejar dua hal yang pasti ada (tenggat waktu dan materi yang harus disampaikan kepada warga belajar), saya selalu mengingat kata-kata Beppo.

Demikian juga ketika saya mendengar dari para pamong bahwa ujian nasional Pendidikan Non Formal dilaksanakan Bulan Maret, sementara tanggal merah bertebaran di mana-mana, saya hanya dapat berdoa, “Semoga mereka mendapat kemudahan…”

Tak ada yang lebih berharga bagi seorang pengantar manusia kepada ilmu, selain melihat yang diantar dapat meraih apa yang dibutuhkan dan menjadi manusia yang bermanfaat…

Saya titip salam untuk semua pendidik…

Posted by iksa in 08:47:09 | Permalink | Comments Off

Kenapa kalasatu?

Kenapa saya menggunakan nama kala satu sebagai blog saya?

Karena bagi saya, kala satu, atau saat sendirian, adalah saat terjujur yang kita miliki. Bahkan lebih jujur dari ketika kita bersama keluarga yang kita sayangi, lebih jujur dari waktu kita bersama belajan jiwa kita, dan lebih jujurdari saat kita mencurahkan hati kepada teman karib kita. Saat sendirian adalah saat kita benar-benar memiliki waktu yang merupakan kebebasan mengenai apa yang sedang kita pikir atau rahasiakan.

Dan bagi saya, kertas dan pena adalah teman yang tersetia. Kertas dan pena tak pernah mengeluh, seberapa pun perasaan yang kita luapkan (lha iya! Malah kita yang ngeluh sendiri karena pegel nulis, hahaha!!! Ih, kata dalam tanda kurung ini ngerusak kesan dramatisnya ya?Maap…).Kertas dan pena tak akan mencela kita, atau menertawakan kita.

Sudah lama saya tak suka persahabatan. Shit! Bagi saya yang ada adalah keluarga, saudara, teman karib, dan belahan jiwa. Sahabat adalah penghianat yang paling dekat. Itu menurut saya, karena kenyataannya demikian… Selain hubungan orangtua-anak atau saudara sekandung, bagi saya orang-orang yang mengaku ingin menjadi sahabat saya adalah orang-orang yang perlu dipertanyakan hatinya.

Bukankah teman bisa menjadi saudara karena saling berbagi dan terbukanya hati?
Bukankan teman mampu menjadi belahan jiwa ketika Tuhan telah menuntun hatinya bersatu dengan hati kita?
Bukankah teman dapat menjadi kawan karib saat kita saling mengerti dan selalu dekat?
Dan semuanya terjadi atas bantuan guliran waktu yang tak lelah memberikan cintanya pada kita. Ya, waktu sangat mencintai kita…

Tanpanya, kita tak punya kenangan tentang masa lalu, tak bisa menjalani kehidupan sekarang, dan mengangankan esok yang akan datang.

Lalu, jangan sia-siakan dia, Sang Waktu, yang telah memberi kita cinta. Jangan khianati dia, Sang Waktu, yang dengan ikhlas telah memberi saat terjujur bagi kita, Kala Satu…

Posted by iksa in 07:14:45 | Permalink | Comments Off

Friday, January 18, 2008

Untuk kita mengerti… Inzien! Inzien!!!

“Kita bisa saja memeluk masa lalu dengan sangat erat, tetapi ini berarti lengan kita tidak bisa digunakan untuk memeluk masa kini”  (Jan Glidewell).

“Semoga ada cukup banyak awan dalam hidupmu (tahun ini) agar kau mendapatkan matahari terbenam yang cantik” (Rebecca Gregory).

“Ada yang harus kita jelang setelah meninggalkan yang lain, sebagaimana kita harus meninggalkan yang lain saat menjelang sesuatu. Namun ada yang tak bisa kita tinggalkan saat menempuh keduanya, yaitu belajar dan membaca” (ik_sactro, 110808).

Posted by iksa in 05:49:51 | Permalink | Comments (1) »