Harga Sebuah Kenangan_REKAMAN
Bapak mendudukkan saya di pangkuan Ibu. Ibu menyodorkan mikrofon, di depan mulut saya. Ssaya diam malu-malu. Usia saya belum genap dua tahun, tetapi saya selalu berceloteh.
“Ayo, Mbak Ika, ikuti kata Bapak,” kata Bapak sabar, “Bapak, Ibu…Mbak Ika mau menyanyi…”
Ibu juga menuntun saya. Wanita berambut panjang itu mulai menyanyikan lagu Garuda Pancasila. Saya mengikutinya sambil melonjak-lonjak.
“Bu… pipis…,” keluh saya di akhir nyanyian saya. Bapak merekam semuanya. Nyanyian, nasehat, dan tanya-jawab keluarga itu. Setelah saya pipis diantar Ibu, kami kembali rekaman.
“Mbak Ika putranya siapa?” pancing Bapak.
“Bapak… Naswan.”
“Sama siapa?”
“Ibu Mung.”
Demikian kami bercanda. Tertawa bersama, di sebuah rumah dinas yang kami jadikan naungan. Rumah itu hanya berisi tiga kamar berjajar, lurus dari depan ke belakang, menghadap ke tenggara. Rumah itu tidak buruk, namun jauh dari mewah. Mungkin sudah berdiri lama sebelum pemberontakan PKI meletus. Di sampingnya berdiri sebuah pohon beringin sekelas pohon beringin di alun-alun, dan akarnya sampai masuk rumah. Teduh, tanpa tetangga. Sekelilingnya adalah hamparan sawah yang subur.
Bapak dan Ibu menikah dua tahun sebelum saya lahir. Bapak seorang PNS yang baru saja diangkat saat saya berusia setahun. Ibu adalah ibu rumah tangga yang aktif di Dharma Wanita. Saya kecil tinggal nyaman di keluarga yang sederhana. Tidur di dipan bersepereikan tikar plastik, bukan kasur. Bapak dan Ibu bertekad membesarkan anak-anak mereka sendiri.
Bapak senang mengabadikan setiap kesempatan yang melibatkan keluarga. Bapak membuat lukisan air terjun tepat setelah saya lahir, sehari sebelum peringatan kemerdekaan Indonesia. Bapak sering mengajak saya berfoto di studio. Saya juga suka ‘ditanggap’ Bapak dan Ibu untuk direkam dengan radio kotak yang ada tape-recordernya. Saat itu belum musim tape pocket, apalagi handycam.
“Untuk kenang-kenangan dan koleksi,” kata Bapak setiap kali orang mempertanyakan kebiasaannya.
Bapak lalu melarang saya kecil bermain-main dengan tanah dan pasir. Tak peduli berapa pun uang yang harus dikeluarkan, Bapak lebih memilih membelikan mainan plastik untuk saya. Saya sendiri tak pernah lepas dari Ibu, kulit saya selalu bersentuhan dengan kulit Ibu.
Bapak dan Ibu bercerita pada saya. Pernah suatu ketika, Ibu mengikuti lomba gerak jalan di pendopo kabupaten. Ibu yang berdiri di tengah-tengah barisan terenyuh melihat Bapak mengemban (menggendong dengan selendang) saya di luar pagar besi yang menjadi batas antara trotoar dengan lapangan pendopo. Saya diam saja, dan ketika ada tanda-tanda saya akan menangis, Bapak akan menunjukkan Ibu pada saya dari kejauhan. Satu tangan Bapak memegang sebuah tas. Saya kecil masih berusia dua tahun.
Dari balik pagar besi setinggi bahu orang dewasa itu, Ibu ingin segera mengakhiri lomba, dan menghambur dari barisan untuk memeluk saya. Namun Ibu membawa nama instansi, dan bagaimana pun itu mengangkat karir Bapak sebagai PNS.
Tak hanya rekaman kaset, semua kenangan itu tetap terekam dalam ingatan serta hati Bapak dan Ibu. Semuyanya tersusun rapi, dsan siap dibuka setiap saat dengan jelas…
4 My Lovely family…
Saya akan mengusahakan lelaki yang mencitaimu, keluargaku…